Sunday, 15 May 2016

Materi Kesembilan

  • Menentukan Kebutuhan Pendidikan
John Mc Neil (1985) mendefinisikan need assessment sebagai “the process by which one defines educational needs and decides what their priorities are” (assessment adalah proses menentukan prioritas kebutuhan pendidikan).
  1. Pendidikan yang bermutu dapat diukur dari pemenuhan harapan masyarakat yang memfokuskan pelayanannya pada kebutuhan pelanggan, baik pelanggan di dalam organisasi (intern costumers) maupun pelanggan di luar organisasi (exsternal costumers).
  2. Kebutuhan pelanggan internal dalam lembaga pendidikan, seperti kepala sekolah, guru dan tenaga teknis lainnya merupakan sesuatu yang harus dipenuhi. Kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka akan bermuara pada masalah-masalah dalam penyelenggaraan pendidikan di lembaga persekolahan.
  3. Sedangkan pelanggan eksternal, seperti siswa, orang tua, masyarakat, perusahaan, industry, pemerintah daerah dan pemerintah pusat.


  • Model penetapan kebutuhan pendidikan menurut Kaufman dan Harsh (1969) terdiri dariyaitu :

  1. Model Induktif
  2. Model Deduktif
  3. Model Klasik

  • Fungsi Analisis Kebutuhan dalam pendidikan
Metode Need Assessment dibuat untuk bisa mengukur tingkat kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran siswa dari apa yang diharapkan dan apa yang sudah didapat. Dalam pengukuran kesenjangan seorang analisis harus mampu mengetahui seberapa besar masalah yang dihadapi. Beberapa fungsi Need Assessment menurut Morisson sebagai berikut:
  1. Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
  2. Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
  3. Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
  4. Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.

  • Tujuan Analisis Kebutuhan Pendidikan

Salah satu pembagian kebutuhan manusia yang terkenal dikemukakan oleh Abraham Maslow, yang melihat adanya hierarkhi dalam kebutuhan, yaitu kebutuhan akan:
  1. Survival (fisiologis).
  2. Security (emosional).
  3. Love and belonging (sosial).
  4. Self esteem (personal).
  5. Self actualization (personality).

  • Pedoman Penetapan Kebutuhan Pendidikan

Pedoman penetapan kebutuhan ini pada awalnya dikemukakan oleh Kaufman, Corriga, dan Johnson (1969), mereka mengusulkan kegunaan satu model untuk keseluruhan pendidikan. Pada akhirnya diharapkan siswa berhasil dan survive dalam kelangsungan hidupnya sesuai dengan yang dicita-cita mereka.

  • Penggunaan Beberapa Model Lainnya

Pertama, model Sweigert sebagai penetapan kebutuhan secara rinci sebagai langkah dalam pemecahan masalah pendidikan. Dia mengusulkan karakteristik untuk menetapkan suatu kebutuhan, yaitu:
  1. Terpusat pada kebutuhan siswa
  2. Mengidentifikasi pencapaian kelompok siswa
  3. Kriteria untuk mengevaluasi kemajuan terhadap kebutuhan
  4. Kebutuhan yang kritis
  5. Ukuran penetapan
  6. Penemuan komitmen secara umum

Kedua, model Sttafflebean (1968) yang mengusulkan beberapa pertimbangan oleh pendidik dalam menentukan kebutuhan, diantaranya :
  1. Kontek Evaluasi, analisis secara teratur dari sebuah bendanya.
  2. Masukkan evaluasi belajar dari fasilitas, pegawai, pelayan.
  3. Proses evaluasi dan urutan kondisi dalam program.
  4. Evaluasi dan perubahan yang diharapkan.

Dari dua model tersebut, dapat dilihat langkah-langkah dalam penyusunan rencana dan kebijakan kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diantaranya :
  1. Merumuskan rencana.
  2. Mengenali masalah.
  3. Mengenali ruang lingkup masalah.
  4. Mengenali kebutuhan dan proses seleksi.
  5. Menentukan kondisi belajar dengan memfokuskan pada fisik dan mental siswa dalam mengembangkan karakteristik.
  6. Menentukan kondisi kebutuhan dengan memfokuskan pada pelajar.
  7. Mencocokan keadaan dengan rencana.
  8. Menentukan prioritas.
  9. Menjamin kelanjutan penyelenggaraan pendidikan pada masa yang akan datang.


No comments:

Post a Comment